Jumat, 25 Desember 2009

Psichoanalysis



Psichoanalysis

Psikonaliasis disebut-sebut sebagai kekuatan pertama dalam aliran psikologi. Aliran ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1890-an oleh Simund Freud, seorang ahli neurologi yang berhasil menemukan cara-cara pengobatan yang efektif bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan gejala neurotik dan histeria melalui teknik pengobatan eksperimental yang disebut abreaction, sebuah kombinasi antara teknik hipnotis dengan katarsis, yang dia pelajari dari senior sekaligus sahabatnya, Dr. Josef Breuer.

Bersama-sama dengan Breuer, Freud menangani pasien-pasien dengan gangguan histeria yang menjadi bahan bagi tulisannya, :”Studies in Histeria”. Kerjasamanya dengan Jean Martin Charcot, dokter syaraf terkenal di Perancis, dia banyak menggali tentang gejala-gejala psikosomatik dari pasien-pasien yang mengalami gangguan seksual.

Freud berhasil mengembangkan teori kepribadian yang membagi struktur mind ke dalam tiga bagian yaitu : consciousness (alam sadar), preconsciousness (ambang sadar) dan unconsciousness (alam bawah sadar). Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan gunung es). Di dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan instink. Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan unconscious, berisi ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas. Freud mengembangkan konsep struktur mind tersebut dengan mengembangkan “mind apparatus”, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego. Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera. Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral. Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah. Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa bermacam-macam, seperti : identifikasi, proyeksi, fiksasi, agesi regresi, represi.

Pemikiran Psikoanalisis dari Freud semakin terus berkembang, Alfred Adler (1870-1937), sebagai pengikut Freud yang berhasil mengembangkan teorinya sendiri yang disebut dengan Individual Psychology. Konsep utama Adler adalah organ inferiority. Berangkat dari teorinya tentang adanya inferiority karena kekurangan fisik yang berusaha diatasi manusia, ia memperluas teorinya dengan menyatakan bahwa perasaan inferior adalah universal. Setiap manusia pasti punya perasaan inferior karena kekurangannya dan berusaha melakukan kompensasi atas perasaan ini. Kompensasi ini bisa dalam bentuk menyesuaikan diri ataupun membentuk pertahanan yang memungkinkannya mengatasi kelemahan tersebut. Selanjutnya, Adler juga membahas tentang striving for superiority, yaitu dorongan untuk mengatasi inferiority dengan mencapai keunggulan. Dorongan ini sifatnya bawaan dan merupakan daya penggerak yang kuat bagi individu sepanjang hidupnya. Adanya striving for superiority menyebabkan manusia selalu berkembang ke arah kesempurnaan. Teorinya ini yang membuat Adler memiliki pandangan lebih optimis dan positif terhadap manusia serta lebih berorientasi ke masa depan dibandingkan Freud yang lebih berorientasi ke masa lalu.

Carl Gustav Jung (1875-1961), salah seorang murid Freud yang kemudian berhasil mengembangkan teorinya sendiri yang disebut Analytical Psychology. Jung menekankan pada aspek ketidakadaran dengan konsep utamanya, collective unconscious. Konsep ini sifatnya transpersonal, ada pada seluruh manusia. Hal ini dapat dibuktikan melalui struktur otak manusia yang tidak berubah. Collective unconscious terdiri dari jejak ingatan yang diturunkan dari generasi terdahulu, cakupannya sampai pada masa pra-manusia. Misalnya, cinta pada orangtua, takut pada binatang buas,dan lain-lain. Collective unconscious ini menjadi dasar kepribadian manusia karena didalamnya terkandung nilai dan kebijaksanaan yang dianut manusia. Ide-ide yang diturunkan atau primordial images disebut sebagai archetype, yang terbentuk dari pengalaman yang berulang dalam kurun waktu yang lama. Ada beberapa archetype mendasar pada manusia, yaitu persona, anima, shadow, self. Archetype inilah yang menjadi isi collective unconsciousness. (Hana Panggabean, 2007, http://rumahbelajarpsikologi.com)

Hingga saat ini di Amerika Serikat tercatat sekitar 35 lembaga pelatihan Psikoanalisis yang telah terakreditasi oleh American Psychoanalytic Association dan terdapat lebih dari 3.000 lulusannya yang menjalankan praktik psikoanalisis. Pemikiran psikoanalisis tidak hanya berkembang di Amerika di hampir seluruh belahan Eropa dan belahan dunia lainnya.

Beberapa teori yang dihasilkan dari kalangan psikoanalisis, diantaranya : (1) teori konflik; (2) psikologi ego; (3) teori hubungan-hubungan objek; (4) teori struktural; dan sebagainya

Terlepas dari kontroversi yang menyertainya, psikoanalisis merupakan salah satu aliran psikologi yang telah berhasil menguak sisi kehidupan manusia yang tidak bisa diamati secara inderawi. Psikoanalisis telah mengantarkan pelopornya, yaitu Sigmund Freud sebagai salah satu tokoh psikologi yang paling populer di Amerika pada abad ke-20.


Sumber:

Hana Panggabean, 2007, http://rumahbelajarpsikologi.com

Wikipedia. 2007. Psychoanalysis. http://en.wikipedia.org/

Rabu, 23 Desember 2009

Nyepi Adalah Langkah Awal

Oleh : Ngakan Putu Putra

Di antara semua rahasia Aku adalah sepi. Bhagavad Gita 10.3;8

Sekitar seminggu sebelum Dharma Santi Nasional tanggal 29 Maret 2008, Nyoman Gede Agus Asrama, dari panitia nasional mengirimi saya naskah drama kolosal dengan judul “Kidung Darma Dalam Renungan”. Mang Agus, demikian biasanya ketua DPN Peradah ini dipanggil, meminta saya untuk memberi masukan soal judul. Setelah membaca seluruh sinopsisnya, saya usulkan judulnya “Kidung Darma Dalam Kehidupan”. Naskah tersebut isinya secara singkat sbb: bangsa Indonesia sedang banyak ditimpa bencana alam, dari tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor yang membawa korban jiwa ratusan ribu dan harta tak terhitung jumlahnya. “Lalu Pada hari raya Nyepi, umat Hindu melakukan berbagai macam rangkaian ritual yang bertujuan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin, menahan hawa nafsu yang selalu mengganggu. Dengan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan melakukan introspeksi diri untuk terlahir menjadi seorang manusia yang baru, tercapailah sebuah kesadaran pada diri setiap insan”.

Karena yang meminta komentar saya adalah seorang anak muda yang memiliki pikiran terbuka, saya pun memberikan komentar apa adanya. Kalau naskah drama ini dibaca sekilas terkesan bahwa hanya dengan ritual (Nyepi) bencana alam dan segala kesulitan bangsa dapat dibereskan. Dalam tataran pribadi dengan melaksanakan semua ritual Nyepi kita sudah mencapai kesadaran.
Shankaracharya, filsuf besar Hindu yang hidup di India pada abad 8 mengatakan: “Sepi adalah langkah pertama untuk menuju keunggulan spiritual.” Nyepi baru merupakan satu langkah awal. Jadi jangan ada yang berpikir bahwa setelah melakukan Nyepi selama satu hari, kita sudah mencapai keunggulan spiritual, dan - saya tambahkan - keutamaan moral. Pepatah Tionghoa menyatakan perjalanan sepuluh ribu li dimulai oleh satu langkah. Tetapi langkah awal itu sangat penting, sangat menentukan.

Lalu apa makna Nyepi? Mengapa pada waktu Nyepi kita melakukan empat brata? Karena Nyepi sebetulnya adalah ritual pergantian tahun, apakah yang ia ajarkan tentang makna waktu? Mengapa pada waktu Nyepi perenungan sangat ditekankan? Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab secara singkat dalam tulisan berikut.

Dua kelemahan tindakan manusia dan cara mengatasinya

Brata terkait dengan kelemahan tindakan kita. Hannah Arendt, filsuf perempuan Yahudi kelahiran Jerman, mengatakan tindakan manusia memiliki dua kelemahan fundamenatal.

Pertama, tindakan kita tidak dapat di duga (unpredictable). Kedua, tindakan kita tidak dapat dibalikkan atau diulang (irreversible). Contoh untuk yang pertama. Setiap pilot, pasti berniat membawa penumpangnya dengan selamat sampai di tempat tujuan. Tetapi entah karena kerusakan mesin, kekuatan alam atau kesalahannya, pesawat yang dikemudikannya mengalami kecelakaan, seperti hard landing, yang menyebabkan para penumpang luka-luka atau meninggal.

Contoh untuk yang kedua. Pilot tersebut tidak dapat mengulangi kembali perjalanannya dari awal. Apa yang sudah dilakukannya tidak dapat dihilangkan untuk diulangi lagi. Ada satu cerita, sbb: seorang guru meminta muridnya melintasi lapangan sepak bola sambil membawa satu karung kapuk ketika ia berjalan ia harus menebarkan kapuk itu sampai habis. Setelah murid itu sampai di ujung lapangan, dan kapuk sudah ditebar semua, guru meminta dia berbalik dan mengumpulkan kapuk itu kembali. Hanya sebagian kecil saja kapuk yang berhasil ia kumpulkan, sebagian besar telah terbang entah ke mana. Demikianlah perbuatan kita. Apa yang telah kita lakukan, atau telah kita katakan tidak dapat diambil kembali. Kalau kapuk masih dapat diambil sedikit. Tetapi kalau perbuatan atau perkataan yang telah kita lakukan sama sekali tidak dapat diambil kembali. Orang tua kita di Bali mengatakan, bila minyak kelapa jatuh ke tanah, masih dapat diambil sedikit-sedikit dengan kapas, tetapi bila kata-kata sudah keluar dari mulut, tidak dapat diambil dengan apapun.

Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kedua kelemahan ini?

Ada dua cara. Pertama, untuk aspek tidak terduga, dengan tekad atau janji sungguh-sungguh. Janji yang sungguh-sungguh dalam bahasa Sansekerta disebut vrata menjadi brata dalam bahasa Indonesia. Ada tiga unsur dari perbuatan kita. Pertama, unsur kehendak. Kedua, unsur tindakan itu sendiri. Ketiga unsur hasilnya. Dari ketiga unsur ini, hanya unsur pertama dan kedua yang ada dalam kendali manusia. Di dalam kedua unsur inilah manusia menerapkan keutamaan moralnya. Kita menghendaki melakukan suatu perbuatan yang baik dan produktif. Lalu dalam tindakan, kita melakukannya dengan benar. Unsur ketiga, hasilnya, di luar kendali kita. Bagi orang beragama unsur ketiga ini ada dalam wilayah kekuasaan Tuhan. Jadi, saya berjanji untuk melakukan pekerjaan saya dengan kehendak baik, dengan cara yang baik. Hasilnya sepenuhnya saya serahkan kepada Tuhan. Ini seperti yang diajarkan oleh Bagawad Gita. Kewajiban kita hanyalah berkerja. Hasilnya adalah urusan Tuhan. Ini yang dimaksud bekerja tanpa mengharapkan hasil. Tidak ada larangan untuk menggunakan hasil itu bagi kesejahteraan kita. Karena larangan semacam itu akan membuat penyelenggaraan hidup, pribadi maupun masyarakat tidak mungkin.

Cara kedua adalah dengan pengampunan atau pemaafan. Karena soal memaafkan dan mengampuni merupakan masalah penting, ia dibahas dalam tulisan tersendiri.

Dengan perenungan pohon pisang jadi pohon jati

Merenung juga mengandung makna introspeksi, refleksi. Intro artinya ke dalam; speksi dari kata speculum atau cermin. Interospeksi artinya mengarahkan cermin ke dalam diri untuk dapat melihat secara jelas apa yang ada dalam diri atau hati kita. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan kita dan memperbaikinya. Mengapa perenungan ini mendapat posisi penting dalam perayaan Nyepi? Ini sebetulnya untuk melatih kita mendengar suara hati kita. Jarak terjauh di bumi ini konon bukan dari kutub utara ke kutub selatan, tetapi telingga kita ke hati kita. Setiap hari diri kita dibanjiri oleh kata, melalui telinga atau mata. Karena itu kita tidak mampu mendengar suara hati kita. Dengan melakukan perenungan kita sebetulnya melatih diri mendengar suara hati itu. Dan ini tidak harus dilakukan setahun sekali. Bahkan sebaiknya dilakukan setiap hari, sekalipun hanya dalam waktu 10 menit.

Di samping itu, kemampuan merenung ini yang membedakan manusia dengan binatang. Kambing atau kuda tidak mampu merenung. Oleh karena itu sejak jaman dahulu kala sampai sekarang, mereka tetap menjadi kambing atau kuda yang sama. Manusia karena memiliki kemampuan merenung telah mencapai kemajuan di segala bidang; tidak hanya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam bidang moral dan spiritual.

Pohon-pohon tidak memiliki kemampuan merenung. Pohon pisang tetap menjadi pohon pisang. Pohon jati tetap menjadi pohon jati. Tetapi manusia, karena memiliki kemampuan merenung, dapat merobah dirinya, dari selemah pohon pisang menjadi sekuat pohon jati.

Hanya melalui kerja masa kini ada.

Nyepi sebetulnya adalah perayaan pergantian tahun. Apakah yang diajarkannya mengenai waktu? Dalam pemahaman kita waktu terdiri dari tiga bagian. Masa yang akan datang, masa kini dan masa lalu. Tetapi Martin Heideger mengatakan, yang ada sebenarnya hanya masa depan dan masa lalu. Masa kini? Masa kini hanya ada kalau kita melakukan kerja. Kalau kita perhatikan arloji, jarumnya terus berjalan detik demi detik. Kapankah yang disebut masa kini?

Ada sebuah paradoks mengenai persepsi kita tentang waktu. Ketika kita menganggur, waktu terasa lama bahkan beku, tetapi sebenarnya ia mengalir terus dari masa depan ke masa lalu. Ketika kita sibuk bekerja, waktu seolah-olah mengalir begitu cepat, padahal dengan bekerja itu kita menahan masa depan agar tidak segera menjadi masa lalu. Ketika kita berdiri di sungai air sungai terus melewati diri kita. Tetapi kita menahan air sungai itu bila kita membelokkan ke sawah untuk menghidupi padi. Hanya melalui karya-karyanya, manusia mengabadikan dirinya dalam masa kini, tidak mampu ditelan oleh masa lalu.

Sri Swami Sivananda, mengatakan bahwa waktu terus mengalir. Hari ini adalah hari yang baik atau beruntung. Tuhan telah memberi kita satu kesempatan lain tahun ini untuk memungkinkan kita mencapai keselamatan kita. Hari ini kita ada. Besok mungkin tidak. Oleh karena itu siapkan diri kita untuk kesempatan emas ini, bekerja keras dan capailah tujuan hidup. Pergunakan waktu dengan sebaik mungkin. Kembangkan semua kamampuan bakat diri kita. Ini adalah satu kesempatan untuk memulai hidup baru, untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia sebenarnya.

Dikembangkan dari dharma wacana dalam dharma santi umat Hindu provinsi Kepulauan Riau tanggal 30 Maret 2008.

dikutip dari:http://www.mediahindu.net/index.php/berita-dan-artikel/artikel-umum/7-nyepi-adalah-langkah-awal.html

Pesamuhan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia 2009

Gubernur Bali:
Umat Hindu di Bali Berkurang 10 %

Dalam 10 tahun terak-hir ini, jumlah umat Hindu di Bali sudah berkurang sebanyak 10 %.” Demikian dikatakan oleh Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, ketika memberi sambutan pada pembukaan Pesamuhan Agung Parisada, pada hari Minggu 18 Oktober 2009, bertempat di Jayasaba (kantor Gubernur Bali).
Gubernur juga me-ngatakan telah terjadi perubahan nilai-nilai dalam masyarakat Bali, yang kalau tidak ditangani bisa membahayakan eksistensi Bali. Tak ketinggalan, Gubernur juga menyoroti perihal upacara-upacara yang memerlukan biaya besar. Terkait dengan hal-hal tersebut Gubernur ”menantang” PHDI untuk masukannya. Dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Bali, yang akan dipakai membentengi keputusan-keputusan, bhisama-bhisama yang dikeluarkan oleh PHDI, merupakan bagian penting. Gubernur juga meminta kepada anggota DPR, DPD terpilih pada Pemilu 2009 untuk ikut memperjuangkan agama Hindu agar mendapat porsi yang seimbang dengan agama lainya.

Pesamuhan Agung Parisada tahun 2009 ini dihadiri oleh Parisada Propinsi seluruh Indonesia, Sabha Pandita, Sabha Walaka, Pengurus Harian, dan Lembaga-lembaga keagamaan yang bernafaskan Hindu skala Nasional. Tampak ha-dir utusan-utusan umat agama lain, seperti dari Keuskupan, Walubi, anggota DPR RI, anggota DPD Bali hasil Pemilu 2009.

Sebelumnya, Sekretaris Umum Parisada Pusat, Nengah Dana membuka rapat di Inna Bali Hotel; membacakan Tata Tertib Pesamuhan Agung, didampingi oleh ketua organ PHDI seperti Ketua Umum Pengurus Harian, Ketua Sabha Pandita, Ketua Sabha Walaka dan Ketua Panitia Pesamuhan Agung, Agus S Mantik.

Dalam sidang pemandangan umum keesokan harinya, Senin 19 Oktober 2009, hampir semua daerah meminta perhatian Ketua Umum Pengurus Harian untuk lebih aktif dalam melaksanakan program-program Parisada yang selama ini dirasakan belum optimal. Wakil Parisada Propinsi Lampung, menyuarakan hal ini paling jelas.

I Ketut Seregig, SH, MH, Sekretaris Parisada Lampung menyampaikan bahwa melalui Rakernis Parisada Propinsi Lampung , 3 Mei 2009, telah dibentuk BDDP (Badan Dharma Dana Propinsi) Lampung. Dengan akte notaris, badan ini dioperasionalkan sebagai badan penggali dana Parisada. Selain melaksanakan pembinaan ke kantong-kantong umat, Parisada juga telah mencetak buku-buku untuk dibagikan secara gratis kepada umat Hindu. Saat ini sedang dilakukan pendataan umat untuk data base, yang akan dikirimkan kepada Parisada Pusat.

I Ketut Seregig juga mengkritisi jalannya roda organisasi Parisada Pusat dalam merealisasikan program kerja dan bhisama-bhisama yang telah ditetapkan oleh Sabha Pandita. Semua ini disampaikan karena adanya keluhan-keluhan yang disampaikan pada pembukaan Pesamuhan, sebagai wujud keprihatinan; seperti krisis keuangan yang dialami Parisada Pusat yang berdampak pada tersendatnya program pembinaan umat Hindu. Menurutnya, keluhan-keluhan tersebut seharusnya tidak terjadi, karena kita memiliki potensi yang cukup besar pada tingkat elit atau pucuk pimpinan. Hal ini terjadi karena pimpinan Parisada kurang inovatif, dan cenderung pasif serta kurang menyentuh umat yang ada di daerah. Ini terjadi karena kurangnya peran Ketua Umum sebagai motivator dan dinamisator yang juga berdampak terhadap kurangnya komunikasi antara Pusat dan Daerah. Dalam menjalankan peran agama, seharusnya disadari bahwa pengorbanan mutlak diperlukan dan dijalankan dengan lascarya. Sehingga dalam bidang pembinaan agama, peran Ketua Umum Parisada sebagai motivator seharusnya tampak dan memperlihatkan jatidiri kepemimpinan yang dapat dibanggakan, dan ini belum dirasakan.

Lampung sebagai Parisada yang paling dekat dengan Pusat seharusnya menjadi teman diskusi dalam melaksanakan program-program yang telah ditetapkan. Selama tiga tahun terakhir ini, aktivitas Parisada Pusat dirasakan cenderung menurun dan kurang gaungnya. Contoh nyata yang dirasakan langsung adalah ketiadaan dharma santi nasional. Seharusnya dharma santi ini harus tetap dilaksanakan, karena merupakan salah satu parameter eksistensi umat Hindu di negeri ini. Bukan malah meniadakan dengan segala alasan.

Dalam bidang pendidikan kita seharusnya bahagia dengan keluarnya PP no. 55 tahun 2007 yang salah satu pasalnya berbunyi, “pasraman yang selama ini merupakan lembaga pendidikan non formal dijadikan sebagai lembaga pendidikan formal.” Namun sudah dua tahun berjalan, PP tersebut belum juga dikuatkan oleh Permenag RI. Ini disebabkan kurang tanggapnya Pengurus Harian Parisada Pusat dalam mendorong percepatan keluarnya Permenag RI tersebut. Strategi yang perlu dilakukan oleh Ketua Umum adalah dengan cara berkirim surat resmi kepada Menteri Agama dengan tembusan Dirjen Hindu; agar dijadikan pertimbangan oleh Pemerintah (Menteri Agama).

Parisada Lampung berharap, agar langkah-langkah ini bisa disikapi dengan baik sehingga terbukti bahwa Ketua Umum Parisada Pusat benar-benar memiliki kemampuan dalam meningkatkan SDM Hindu di Indonesia. Setelah tiga tahun berjalannya kepengurusan ini, belum dirasakan getaran-getaran signifikan dalam kepemimpinan Ketua Umum.

Namun Pengurus Harian bukannya tidak punya prestasi. Parisada Pusat sudah mampu merenovasi gedung kantor, berkat bantuan sepenuhnya dari Ditjen Bimas Hindu, dan furniturnya berkat bantuan dua tokoh umat yang pernah dan sedang menduduki jabatan tinggi di dua Bank BUMN. Parisada juga sudah meluncurkan bea siswa dan asuransi kesehatan untuk para pinandita berkat kerja keras BDDN di bawah pimpinan Ir. Wayan Alit Antara, mantan Wakil Dirut BRI.

Dikutip dari : http://www.mediahindu.net/index.php/berita-dan-artikel/berita-terbaru/44-pesamuhan-agung-phdi-2009.html