Kali ini saya ingin mengangkat topik kepribadian, khususnya kepribadian kita sebagai remaja yang sedang mencari jati diri yang sesungguhnya.
Seringkali kita mendengar ungkapan-ungkapan seperti berikut, "aku mau punya hidupku sendiri !", "aku mau menjadi apapun yang aku inginkan !", "mau jadi apa hidupku terserahku", "ah, itu kan masa Bapak, dan Ibu dulu, masaku berbeda, aku ingin jadi yang aku citakan" atau mungkin mempunyai pikiran seperti ini, "tugasku hanya belajar, jadi masalah biaya dan beratnya biaya bukan pikiranku". Buat sebagian orang mungkin tidak biasa mengucapkan, mendengar kalimat-kalimat di atas atau lebih jauh memikirkannya. namun bila kita cermati banyak juga diantara kita yang tidak asing dengan kalimat-kalimat diatas. atau mungkin malah kita juga yang tidak asing ?.
Saya tidak akan membahas kalimat-kalimat diatas lebih jauh. yang ingin saya bahas selanjutnya adalah bagaimana hubungan kalimat-kalimat tadi dengan kepribadian kita sebagai remaja.
Usut punya usut, kalimat-kalimat tadi sering muncul sebagai wujud ekspresi diri jiwa muda, yang haus akan idealisme, dan menuntut untuk diakui eksistendinya oleh orang-orang disekitarnya. memang tidak semua kasusberakhir dengan penyesalan di akhir. Namun bila kita cermati, ada satu aspek yang sangat penting dan terlupakan dalam kalimat-kalimat tadi.Aspek/poin itu adalah hak dari orang tua kita
Sebagai generasi muda yang mengaku memiliki KTP indonesia, kita tentu tidak asing dengan Pancasila kan ?, banyak dari kita sudah hafal dengan lima buah sila dari pancasila, bahkan diluar kepala. Tapi apakah kita pernah merenungkan buah pemikiran dan perjuangan dari para pendiri bangsa kita itu?. Saat kita bimbang akan sesuatu, Pancasilalah yang sebenanya acuan kita untuk bertindak, sehingga lahir akal budiyang cerdas, dan lembut.
Di dalam Pancasila terkandung satu nilai yang penting untuk kita ketahui, yaitu adalah batasan hak kita sebagai generasi muda. sebelum menuntut hak kita melakukan kewajiban, tapi dalam menuntu hak juga bukan berarti sebebas-bebasnya, ada hak orang lain yang menjadi batasan hak kita. Hak remaja, katakanlah dibiayai studinya, mendapat kasih sayang ,mendapat perhatian, mendapat pembimbingan orang tua, hingga dewasa atau menikah (bahkan setelah menikah pun, masih mendapat bimbingan dari orang tua). Lalu akan muncul satu pertanyaan penting yang kita lupakan, "Apakah Hak Orang Tua Kita ?", karena itulah batasan kita, idealisme tapi idealisme yang terbatas, kebebasan tapi kebebasan yang terbatas, tidak yang sebebas-bebasnya. itulah kepribadian yang diwariskan oleh Pancasila untuk kita sebagai generasi muda Indonesia. satu nilai yang luas cakupannya :-D.
Dengan selalu merenungkan "Apa hak orang tua kita", kita tidak akan terjerumus dalam pergaulan yang sangat bebas, atau sejenisnya.
Masih banyak lasgi rahasia dari Pancasila yang menunggu kita, garuda-garuda mudanya untuk mengupasnya lebih dalam.
Sekian ini note saya kali ini, semoga apa yang saya dapatkan dari pengalaman sehari-hari dan pelajaran dari setiap guru yang saya temui bermanfaat untuk kita semua.
Salam untuk semua garuda-garuda muda Indonesia, yang berproses untuk jadi lebih luar biasa.
Seringkali kita mendengar ungkapan-ungkapan seperti berikut, "aku mau punya hidupku sendiri !", "aku mau menjadi apapun yang aku inginkan !", "mau jadi apa hidupku terserahku", "ah, itu kan masa Bapak, dan Ibu dulu, masaku berbeda, aku ingin jadi yang aku citakan" atau mungkin mempunyai pikiran seperti ini, "tugasku hanya belajar, jadi masalah biaya dan beratnya biaya bukan pikiranku". Buat sebagian orang mungkin tidak biasa mengucapkan, mendengar kalimat-kalimat di atas atau lebih jauh memikirkannya. namun bila kita cermati banyak juga diantara kita yang tidak asing dengan kalimat-kalimat diatas. atau mungkin malah kita juga yang tidak asing ?.
Saya tidak akan membahas kalimat-kalimat diatas lebih jauh. yang ingin saya bahas selanjutnya adalah bagaimana hubungan kalimat-kalimat tadi dengan kepribadian kita sebagai remaja.
Usut punya usut, kalimat-kalimat tadi sering muncul sebagai wujud ekspresi diri jiwa muda, yang haus akan idealisme, dan menuntut untuk diakui eksistendinya oleh orang-orang disekitarnya. memang tidak semua kasusberakhir dengan penyesalan di akhir. Namun bila kita cermati, ada satu aspek yang sangat penting dan terlupakan dalam kalimat-kalimat tadi.Aspek/poin itu adalah hak dari orang tua kita
Sebagai generasi muda yang mengaku memiliki KTP indonesia, kita tentu tidak asing dengan Pancasila kan ?, banyak dari kita sudah hafal dengan lima buah sila dari pancasila, bahkan diluar kepala. Tapi apakah kita pernah merenungkan buah pemikiran dan perjuangan dari para pendiri bangsa kita itu?. Saat kita bimbang akan sesuatu, Pancasilalah yang sebenanya acuan kita untuk bertindak, sehingga lahir akal budiyang cerdas, dan lembut.
Di dalam Pancasila terkandung satu nilai yang penting untuk kita ketahui, yaitu adalah batasan hak kita sebagai generasi muda. sebelum menuntut hak kita melakukan kewajiban, tapi dalam menuntu hak juga bukan berarti sebebas-bebasnya, ada hak orang lain yang menjadi batasan hak kita. Hak remaja, katakanlah dibiayai studinya, mendapat kasih sayang ,mendapat perhatian, mendapat pembimbingan orang tua, hingga dewasa atau menikah (bahkan setelah menikah pun, masih mendapat bimbingan dari orang tua). Lalu akan muncul satu pertanyaan penting yang kita lupakan, "Apakah Hak Orang Tua Kita ?", karena itulah batasan kita, idealisme tapi idealisme yang terbatas, kebebasan tapi kebebasan yang terbatas, tidak yang sebebas-bebasnya. itulah kepribadian yang diwariskan oleh Pancasila untuk kita sebagai generasi muda Indonesia. satu nilai yang luas cakupannya :-D.
Dengan selalu merenungkan "Apa hak orang tua kita", kita tidak akan terjerumus dalam pergaulan yang sangat bebas, atau sejenisnya.
Masih banyak lasgi rahasia dari Pancasila yang menunggu kita, garuda-garuda mudanya untuk mengupasnya lebih dalam.
Sekian ini note saya kali ini, semoga apa yang saya dapatkan dari pengalaman sehari-hari dan pelajaran dari setiap guru yang saya temui bermanfaat untuk kita semua.
Salam untuk semua garuda-garuda muda Indonesia, yang berproses untuk jadi lebih luar biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar