Jangan sepelekan hal – hal yang kecil dalam hidup kita. Sering kita tidak sadar yang kecil itu ternyata sama berbahayanya dan sama merusaknya dengan sesuatu yang besar itu.. . kita ambil contoh note fb saya yang lalu. Contoh lain, lubang pada gigi juga dapat membuat tubuh jadi meriang, atau seperti kata iklan odol di tv ”makan panas, dingin, asam, pedas jadi ngilu..”. Beberapa hal kecil yang luput dari perhatian dan akan kita bahas disini adalah pernyatan – pernyataan yang seolah – olah positif tetapi sebenarnya menjerumuskan.
“Saya sudah tahu”
Pernyataan saya sudah tahu, sebenarnya membuat kita untuk berhenti belajar dan membuka diri. Pada saat kita berhenti belajar dan membuka diri, maka kita sudah berhenti berkembang.. , padahal orang lain terus belajar dengan pengetahuan yang baru, sedangkan orang dengan “saya sudah tahu” terus diam di tempat.
Kita sebaiknya perlu tahu, bahwa manusia itu merupakan makhluk yang dinamis, perlu belajar untuk terus maju dan memajukan J, bukan sebaliknya, statis.. karena manusia itu sama sekali bukan benda mati.
“Saya orangnya memang begini”
“saya orangnya memang begini, terima saya apa adanya, dinasehatin juga saya nggak akan mungkin bisa berubah..”
Dengan mengucap kalimat yang mengandung frasa di atas, sebenarnya bukan citra positif dari perkataan orang lain yang kita tangkap, tetapi sisi negatifnya.. .Kita memenangkan diri sendiri. Perkataan orang lain, tanpa pandang bulu termasuk saran yang membangun dianggap sebaliknya, sebagai kritik pedas. Lebih parah lagi sebagai hujatan dan memicu sindrom anti – sosial.
“Hiduplah seperti air mengalir ke laut”
Sering orang yang kita anggap bijak, dan mampu memberikan nasehat berkata demikian. “jalanilah hidup seperti air mengalir, muaranya akan ke laut juga”. Memang kalimat diatas benar adanya, sebagian besar air bermuara langsung ke laut. Tapi akankah langsung ke laut ? ada yang harus melewati comberan, tempat menjijikan lain baru ke laut. Sebagian lain juga tidak ke laut, ada yang ke septic tank, dan tempat menjijikan lain.
Jadi rencanakan hidup kita. Siapa yang mengetahui masa depan, tenyata ada “air” yang tidak menuju ke laut, tapi ke septic tank.
Disadur dari berbagai sumber
05/01/2012, 01:05 p.m
“Saya sudah tahu”
Pernyataan saya sudah tahu, sebenarnya membuat kita untuk berhenti belajar dan membuka diri. Pada saat kita berhenti belajar dan membuka diri, maka kita sudah berhenti berkembang.. , padahal orang lain terus belajar dengan pengetahuan yang baru, sedangkan orang dengan “saya sudah tahu” terus diam di tempat.
Kita sebaiknya perlu tahu, bahwa manusia itu merupakan makhluk yang dinamis, perlu belajar untuk terus maju dan memajukan J, bukan sebaliknya, statis.. karena manusia itu sama sekali bukan benda mati.
“Saya orangnya memang begini”
“saya orangnya memang begini, terima saya apa adanya, dinasehatin juga saya nggak akan mungkin bisa berubah..”
Dengan mengucap kalimat yang mengandung frasa di atas, sebenarnya bukan citra positif dari perkataan orang lain yang kita tangkap, tetapi sisi negatifnya.. .Kita memenangkan diri sendiri. Perkataan orang lain, tanpa pandang bulu termasuk saran yang membangun dianggap sebaliknya, sebagai kritik pedas. Lebih parah lagi sebagai hujatan dan memicu sindrom anti – sosial.
“Hiduplah seperti air mengalir ke laut”
Sering orang yang kita anggap bijak, dan mampu memberikan nasehat berkata demikian. “jalanilah hidup seperti air mengalir, muaranya akan ke laut juga”. Memang kalimat diatas benar adanya, sebagian besar air bermuara langsung ke laut. Tapi akankah langsung ke laut ? ada yang harus melewati comberan, tempat menjijikan lain baru ke laut. Sebagian lain juga tidak ke laut, ada yang ke septic tank, dan tempat menjijikan lain.
Jadi rencanakan hidup kita. Siapa yang mengetahui masa depan, tenyata ada “air” yang tidak menuju ke laut, tapi ke septic tank.
Disadur dari berbagai sumber
05/01/2012, 01:05 p.m
Tidak ada komentar:
Posting Komentar