Sabtu, 30 Juni 2012

Karena Itu, Ayo Awali dan Sebarkan

    Suatu ketika kita menikmati sesuatu, suatu ketika sajikanlah yang pula yang kita nikmati pada orang lain.

    Pernah suatu waktu, aku menikmati senyum dari orang yang tidak aku kenal saat aku berkendara. Entah apa sebabnya seorang itu tersenyum begitu manis. Pada saat yang lain mataku bertemu menatap orang lain, dan aku spontan tersenyum. Bukan karena dia tampan, cantik, atau melakukan suatu hal yang baik, atau bahkan luar biasa. Tapi karena aku merasa dia berhak mendapatkan senyum seperti yang aku dapatkan dari orang lain itu.

 
   
    Suatu ketika aku mengikuti tes di satu sma di Surabaya. Pada saat tes akan dimulai, penjaga ruangan memerintahkan kami untuk menyiapkan pensil HB. Banyak diantara peserta tes yang tidak membawa pensil HB karena sebelumnya tidak ada pada petunjuk kelengakapan tes. Pada saat itu, seorang peserta tes disampingku tidak membawa pensil, dan spontan aku yang membawa 2 pensil HB meminjamkan satu untuknya. Aku cuma ingin satu hal. Untuk selanjutnya saat dia masih akan mengingat saat itu, dan ketika ada seorang lain yang membutuhkan pertolongan kecil, dia akan selalu berkata, ya.

    Cukup satu orang yang melakukan hal baik atau manis kepada kita, terlepas apa motivasi mereka, sudah cukup jadi alasan untuk meneruskan hal itu, kepada setiap orang yang kita temui. Apalagi bila kita selalu mendapat hal - hal baik dari orang di sekitar kita, mengapa tidak kita teruskan ?, jangan biarkan hal tidak baik dari seseorang menghalangi kita meneruskan hal baik dari orang - orang yang kita kenal :). Agar kemudian kita tidak hanya jadi penerima hal baik, tapi juga pemberi hal baik.

    Karena, sesungguhnya tidak selalu ada kebahagiaan dalam memiliki, dan mendapatkan sesuatu. tapi ada dalam memberi. - Henry Drummond.



MBD. 30/06/2012 21:18 WB
di Dekat Meja Coklat Kamar Rusun


Kamis, 28 Juni 2012

Merayakan Kegagalan, Celebrating the Failure.

    Beberapa hari hari yang lalu aku menjejakkan kaki lagi di kota tempat aku belajar sekarang, setelah pulang dari perjalanan mencari tempat belajar baru. Aku merasa semuanya tidak akan pernah sama seperti sebelum kepergianku mencari tempat belajar baru ini. Apakah itu menjalani kuliah seperti dulu, target - target kuliah, atau gaya hidup kupu - kupu.

    Apa yang kita lakukan pasti akan menimbulkan akibat bukan ?, seorang yang bermain air akan basah, seorang yang kehausan bila diberi minum akan hilang dahaganya. Itulah akibat yang selalu menyertai perbuatan seperti bila kita melihat bentuk utuh bulan pada kolam yang jernih. Seringnya, arah akibat itu tidak dapat kita duga sebelumnya, atau tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Itulah apa yang sedang aku hadapi. Sekuat apapun aku berusaha untuk masuk ke tempat belajar yang aku tuju kemarin dengan usaha terbaik dan semangat nekat ala bonek, gagal atau lolosnya tidak dapat aku pastikan. Kesalnya menyadari hal ini, tapi bila dipikir - pikir memang begitulah yang seharusnya harus terjadi demi kebaikan, dan kesekian kalinya hati dikalahkan oleh logika.




    Everything you do comes with risk, bigger thing you seek, bigger risk you face. Kira - kira seperti itulah salah satu makna hidup yang harus kita pegang. Semakin besar hal yang kita cari, semakin besar pula resiko yang harus kita hadapi. Tidak ada perjuangan yang tidak menuntut adanya resiko. Pergi 33.000 km untuk seleksi bukan jarak yang hanya sekali naik sepeda lalu sampai, tidak hanya mengayuh sebentar lalu istirahat, tapi jarak yang harus ditempuh dengan kemampuan fisik, mental, dan kesediaan berkorban waktu yang tidak sebentar. Lemas rasanya ketika kesekian kali harus gagal lagi, tapi kembali lagi hati harus kalah oleh logika, dan sadar bahwa ini hanya hal yang harus aku lakukan,seperti sacrifice untuk mendapat hal yang lebih besar.

    Aku jelas tidak mau gagal lagi, tapi bila terjadi aku bisa apa ?, aku hanya bisa melakukan satu hal, Merayakan Kegagalan. Bersyukur dengan pengalaman yang diberikan kepadaku, bersyukur dengan perubahan yang diberikan kepadaku dalam hal apa saja. Aku akan mencoba rileks, bila aku memang harus belajar lagi ditempat ini tiap malam, ditemani radio hp kecilku, mengetik tugas di meja dekat jendela kamarku, atau memasak dengan penanak nasi sederhanaku lagi saat pulang kuliah dan mencuci tiga kali seminggu. Jadi pengangguran sementara lagi, sampai akhirnya menghanyutkan diri dalam bursa kerja.

    "But, a thing i know for sure that is my today and tomorrow never be the same as my past, when i wasn't knowing that the real sacrifice is beautiful"
   
   
Semarang 22:54, 28/06/2012
di sudut kamar rusun dekat jendela

Rabu, 27 Juni 2012

Satu Artikel Yang Kusuka

Sering aku baca artikel, tapi entah artikel dari satu blog ini punya tempat khusus di otakku, karena sedikit mirip dengan masa yang telah aku jalani. Btw, ini hasil CoPas, but, please enjoy :).

Kamu terus menarik tanganku, masuk lebih jauh ke dalam lorong yang sama sekali tak bisa kuterka ujungnya. Sejujurnya, perjalanan ini justru terasa seperti tak berujung. Entah sudah berapa lama seperti ini, kamu berjalan di depan, menuntun tanganku, menuju sesuatu, yang aku tak tahu apa, dan berujung di lorong tak berujung ini.

Bukan salahmu. Karena bukankah sepanjang perjalanan ini, aku pun hanya pasrah, membiarkan kamu menuntun aku masuk, makin lama, makin jauh, menuju sesuatu yang kau sendiri tak tahu apa. Bukan aku tak ingin bertanya, beberapa kali kucoba memanggil namamu, mencoba bertanya. Tapi saat kemudian wajah kita saling berhadapan, aku lalu terdiam, membeku sekaligus mencair, luluh lantak akibat senyuman dari wajah yang paling kukagumi. Maka kemudian hanya diam yang tersisa. Dan kamu kembali meraih tanganku, melanjutkan perjalanan, tanpa pertanyaan.

Aku bisa apa, jika sekujur tubuh ini sepenuhnya telah dikendalikan oleh kamu. Bekunya, luluhnya, semua tergantung kamu. Sering aku merasa lelah, ingin berhenti, memaksamu melepaskan pegangan, lalu kembali bebas, pergi, menyusuri jalan manapun selain terjebak dalam petualangan tanpa henti di lorong tak berujung ini. Tapi, kemudian tak mampu ku jemput bebasku, karena toh nyatanya aku menikmati setiap detik perjalanan di lorong ini, walau kutahu mungkin tak berujung, semata-mata hanya agar terus bersama kamu. Kamu yang membuat segala kelalahan tak berujung ini seakan terbayar, lunas, tanpa sisa!

Jangan tanya soal lelahku, berjalan bersama kamu -entah sudah berapa lama- tanpa sedikit pun tahu kemana kamu akan membawa aku, tentu saja melelahkan. Tapi kunikmati lelahku, karena terlanjur luluh oleh kamu. Dan berujung atau tidak, perjalanan ini akan selalu tentang kamu bukan, walau mungkin takkan pernah menjelma kita. Maka biarlah aku teruskan perjalanan, tanpa satupun pertanyaan tentang ujung dari lorong tak berujung ini.

Dan bila akhirnya kutemukan ujung, tapi tak kudapati apa-apa di sana, sesungguhnya aku takkan kecewa. Karena itu pun akan terbayar, oleh perjalanan panjang kita, menuju tak ada tujuan.

“Focus on the journey, not the destination. Joy is found not in finishing an activity but in doing it.”

Source : http://ceritadibah.wordpress.com/   27/06/2012, 18:47 W.I.B
di sudut kamar rusun.

Selasa, 26 Juni 2012

Tentang Masa Lalu

    Kepada masa lalu yang seringkali dianggap tidak penting, bukankah di dalam dirimu tidak ada bagian yang sekedar tidak penting ? . Seorang tidak dapat mencapai 1 jam jika tidak melalui 1 menit, dan begitu seterusnya. seorang tidak dapat mengerjakan sesuatu dengan benar jika sebelumnya belum pernah belajar. Lain halnya dengan masa kini, atau masa depan yang selalu dipuja - puja dan diharap - harapkan, bukankah mereka sama sekali tidak bisa dicapai tanpa terlebih dulu melewatimu ?.

    Kepada masa lalu, engkau yang sering dilupakan, dan berusaha dimatikan, sehingga seolah - olah dirimu tidak pernah hadir dalam kehidupan, apakah mereka lupa apa yang pernah engkau berikan ?. Engkau beri kami pengalaman, engkau ingatkan kami dari kesalahan yang sama., engkau beri kami kesempatan menjadi lebih baik.



    Aku pun pernah membencimu, dan tidak ingin mengenal dirimu lagi karena engkau buat aku menangis, terluka, jatuh, sehingga akhirnya aku jadi seperti sekarang ini. Tapi bukankah dirimu pernah buat aku tersenyum, dan merasa bahagia ? Dirimu menempaku hingga aku seperti sekarang ini.

    Tidak. Aku tidak mau jadi salah satu yang melupakanmu, dan bahkan membunuhmu. Maafkan aku, ijinkanlah aku memelukmu dan berterima kasih karena engkau telah mengantarku pada kekinianku, sebagai bekal menentukan masa depanku.

Semarang - 26/06/2012
di sudut kamar rusun

is this the friendship ?

apakah pertemanan itu ?.
apakah itu berarti hubungan antara dua manusia atau lebih yang hanya saling sapa ?.
apakah itu hanya hubungan dua manusia atau lebih yang didasarkan kesukaan yang sama ?.
atau kah didasarkan kebutuhan "minta tolong", dan "saling bagi rahasia", dan membela yang lain tanpa pandang mana yang benar dan mana yang salah ?.



apakah yang ini yang dapat membuat orang lain, seolah - olah menjadi saudara ? dan memberikan yang ia punya ?.
apakah ini yang salah satu alasan para terpidana koruptor melakukan kkn ?.
atau dengan ini seorang merasa berhak memarahi dengan alasan demi kebaikan ? dan kemudian bahkan menjalin sesuatu yang sangat terikat ?.

aku tidak tahu apa itu pertemanan
kebanyakan yang aku lihat namanya pertemanan itu,
bergaul dengan yang teman,mengucilkan yang bukan teman, hingga yang tak berteman menangis tanpa teman dari dunia nyata sampai dunia maya.
yang namanya perteman itu berakibat membela teman tak perduli jika salah, dan selalu mendukung dalam kebaikan sampai kejahatan.
pasang muka kontan, tidak gentar menolak sesuatu hal dari yang bukan teman.
tidak ragu mengatakan kejelekan yang bukan teman.

Kasihan ya, yang jadi bukan teman :). jadi pertemanan itu ?

an Irian's Culinary Heritage

    Membahas kuliner Indonesia memang tidak ada habisnya. Dari kuliner tradisional sampai kuliner yang tradisional kontemporer. Tapi jadi miris juga rasanya kalau disaat kita membahas warisan kuliner bangsa Indonesia, tapi masih ada rakyat Indonesia yang kekurangan gizi. Semoga di kemudian hari, kualitas hidup keluarga Indonesia meningkat seluruhnya.

    Beberapa hari yang lalu saya pergi ke Irian untuk menyelesaikan urusan. Di sela - sela kegiatan, saya sempat mencicipi kuliner khas dari Ibukota provinsi terluas di Indonesia itu. Beberapa yang sempat saya cicipi ini dia,

    Papeda. Papeda adalah makanan asli masyarakat irian. Papeda terbuat dari sari dari pohon sagu yang kemudian diseduh dengan air panas sambil diaduk. Papeda bertekstur lembut dan kenyal. Tidak heran, karena teksturnnya ini orang - orang yang belum pernah mengetahui papeda sebelumnya, akan menyangka bahwa si penyantap sedang makan lem.


    Karena rasanya yang tawar, papeda tidak cocok disantap sendirian. Masyarakat Irian seringkali menyantap papeda dengan sup ikan, seperti sup ikan di bawah ini.

    Sup Ikan Kuning . Melihat tampilannya, kita dapat menduga - duga bahwa pastilah nama sup ikan kuning berasal dari kuahnya yang kuning, tapi sebenarnya nama sup ikan kuning ini karena sup ini menggunakan daging ikan ekor kuning yang ada di perairan sekitar Pulau Irian. Namun kemudian seiring waktu, tidak hanya ikan ekor kuning yang digunakan, ikan - ikan lain juga banyak digunakan untuk sup ini.



     Sup ini umumnya dibuat asin, dan sedikit pedas, untuk mengimbangi papeda yang tawar. Bila sudah jadi satu sup dan papedanya, begini nih tampilannya, 


    Kelihatannya enak ?. Makanannya siapa dulu, kalau bukan bangsa Indonesia. Ini baru satu, yang lainnya ? banyak juga.

    Penelusuran kuliner masih terus berlanjut. Mari lestarikan budaya kuliner nusantara. Kalau belum bisa buat, nyobain dulu, hehehe. sekian.


Sabtu, 09 Juni 2012

Filosofi dari "Gundul Pacul" apa sih ? :)

Budaya warisan bangsa kita sangat kaya, salah satunya adalah lagu dari masyarakat jawa (jawa tengah dan jawa timur) yang berjudul gundul pacul.

Kalau kita yang sudah mahir berbahasa jawa, mungkin tidak kesulitan mengetahui arti dari lirik lagu yang sering dijadikan lagu - lagu pamungkas dalam lomba - lomba musik daerah nusantara baik di dalam maupun luar negeri ini, tapi alangkah lebih baik kita tidak hanya mengetahui arti sepintas saja, namun pula nilai - nilai yang terkandung dalam lagu ini (mendengar lebih dalam). Bagi yang belum pernah tahu lirik lagu gundul pacul, berikut ini liriknya :

Gundul gundul pacul cul gelelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul gembelengan

Wakul ngglimpang segane dadi dak ratan
Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan


Gundul seperti yang kita tahu, adalah kepala yang tanpa rambut sama sekali. Kepala adalah lambang dari kehormatan seseorang seseorang, sedang rambut adalah mahkota penghias dari kepala itu dari luar. Sehingga maksudnya dari gundul adalah kehormatan yang tanpa mahkota, atau bisa dipahami bahwa kehormatan tidak selalu harus ada mahkota yang terlihat bagus di luar.

Pacul adalah sebutan dari masyarakat jawa sebagai akronim (singkatan) dari  Papat kang Ucul (empat hal yang lepas), yaitu kemuliaan seseorang tergantung dari bagaimana seseorang tidak melepaskan empat hal. Empat hal itu adalah :

1.mata, digunakan untuk melihat kesulitan sekitar atau masyarakat

2.telinga, digunakan untuk mendengar nasehat - nasehat

3.hidung, digunakan untuk mencium wewangian kebaikan

4.mulut, digunakan untuk berkata keadilan.

Bila empat hal di atas lepas, maka lepas pula kehormatan yang sesungguhnya, sehingga mengakibatkan : gembelengan (congkak. sombong). Bila sudah congkak, sombong maka nyunggi wakul (amanah yang diemban) akan jatuh / wakul ngglimpang. Akibatnya amanah yang diemban tidak terselesaikan, bahkan merugikan kepentingan masyarakat banyak dan tidak bermanfaat bagi sesama / segane dadi sak latar.

Bagaimana ? dalam kan maknanya ? :), ini hanya salah satu budaya kita, masih banyak budaya yang harus kita gali dan jaga kelestariannya untuk pelajaran generasi mendatang. Jangan sampai generasi mendatang tidak pernah lagi mendengarkan lagu sederhana yang sarat makna ini.

Mendengar lebih dalam yuk ? :) .








Minggu, 03 Juni 2012

Galau-an Sang Pemimpi Kelas Kakap..

sudah semestinya belajar dari pengalaman. tapi kenapa saat berjalan setapak, susah menjadikannya pelajaran dan bergerak dengan konsisten.. dasar pemimpi kelas kakap.. tapi pekerja kelas lele.. mimpi itu ibaratkan dapat memilih, mungkin tidak mau memilihku untuk bersamany.
    keadaan yang sudah setengah langkah ini juga tidak bisa begitu saja dimatikan. mati segan, sedang hidup tak mau.. tapi memang harus dipaksakan hidup sebelum mati pada waktunya, artinya dipaksakan berjuang lagi, bila gagal biarlah gagal pada waktunya.
    perjuangan sudah dimulai dan aku berusaha menjadikan diriku mempunyai bergaining point yang lebih dari peserta lain. kita harus fokus pada proses kan ? hasil itu bonus.. tapi bergaining point  ini lemah.. dan menurut para mitra yang lain, aku harus tetap maju, sedikit mendengar, sesekali menutup mata, dan terus berlari :-D. (oke, i get it, thanks to ang** for the support given).
    aku sudah terbiasa dengan kegagalan kan., tapi semakin terbiasa dengan hal itu malah bukan menjadikanku kuat, tapi bosan dengan kegagalan, ditambah lagi hampir putus asa dari apa yang dinamakan keberhasilan dengan gemilang, bahkan dengan gemintang (apakah ini konsekuensi karena waktu kecil aku mudah sekali memperoleh keberhasilan, terutama di bidang akademis ?), honestly, aku bukan tipe orang yang begitu saja menutup mata dari mitos atau apapun yang sejenis, segolongan, sebangsa , dan senegara dengan itu.. jadi mungkin saja itu salah satu faktornya..
    jadi aku rasa minggu depan bisa jadi penentuan, apakah puncak pamungkas perjuangan di eastern indonesia berlanjut, atau aku kembali jadi pelajar tingkat tinggi + pengangguran sementara yang berkepanjangan,. (semester ini pasti terjun payung indeks prestasiku, terjun tanpa payung lagi >,
    sesuai potongan lagu dari kak ipang pas jaman sma, yang seakan mennyemangati pemimpi kelas kakap ini agar terus berjuang :

    Apa yang kau takutkan
    Dengan semua ini
    Bukankah kesedihan
    Sering kita alami
    Keadaan ini
    Buat kita terbiasa

    Dengarkan ku bicara
    Teruslah bermimpi
    Walau kenyataannya jauh berbeda
    Teruslah bermimpi
     Jangan berhenti

    intinya kegagalan itu karena memang kita tidak tidak memenuhi kualifikasi pendaftar yang lolos.. ungkapan seperti : Aku diberikan yang aku butuhkan dan bukan yang aku inginkan, Aku belum rejekinya disana.. aku sudah kesal menngucapkannya, dan memang kata -  kata itu mengandung unsur pembodohan dan pemalasan.. karena kalau kita benar - benar seorang juara dan layak untuk masuk pasti akan diterima !!!, jadi saat aku gagal nanti aku tidak akan lagi mengatakan seperti di atas,. tapi aku akan berkata seperti kesatria jaman dahulu "aku kalah, aku tidak lebih baik dari mereka yang kini ada disana, dan aku akan kembali !". Dan dengan berkata demikian, aku menjadi lega sekaligus semangat. lega karena yang lolos benar - benar baik, excellent, awesome dariku, serta semangat karena aku harus mencari lahan lain dimana aku bisa jadi yang excellent juga atau bisa juga mencoba menjadi excellent seperti mereka jika aku mampu dan masih ada waktu.
    semoga aku tidak lagi jenuh dengan perjuangan yang amat, super, duper, panjang, banget ,sekali.. mana masih ndut, hahahaha, bolos lagi.. hahahaha.
    diawali note ini dengan sedikit banyak ketidak jelasan topik.. diakhiri dengan ungkapan - ungkapan agak semangat + ngeyel an.. akhirnya selamat berjuang, selamat meraih mimpi sesuai dengan takdir (bagi yang percaya), sesuai usaha (bagi yang percaya), serta kerja keras dan cerdas.

kita juara, aku juga juara. vini vidi vici

Kepribadian Kita dalam Pancasila (Kayak Gimana ? :) )

Kali ini saya ingin mengangkat topik kepribadian, khususnya kepribadian kita sebagai remaja yang sedang mencari jati diri yang sesungguhnya.
    Seringkali kita mendengar ungkapan-ungkapan seperti berikut, "aku mau punya hidupku sendiri !", "aku mau menjadi apapun yang aku inginkan !", "mau jadi apa hidupku terserahku", "ah, itu kan masa Bapak, dan Ibu dulu, masaku berbeda, aku ingin jadi yang aku citakan" atau mungkin mempunyai pikiran seperti ini, "tugasku hanya belajar, jadi masalah biaya dan beratnya biaya bukan pikiranku". Buat sebagian orang mungkin tidak biasa mengucapkan, mendengar kalimat-kalimat di atas atau lebih jauh memikirkannya. namun bila kita cermati banyak juga diantara kita yang tidak asing dengan kalimat-kalimat diatas. atau mungkin malah kita juga yang tidak asing ?.
    Saya tidak akan membahas kalimat-kalimat diatas lebih jauh. yang ingin saya bahas selanjutnya adalah bagaimana hubungan kalimat-kalimat tadi dengan kepribadian kita sebagai remaja.
    Usut punya usut, kalimat-kalimat tadi sering muncul sebagai wujud ekspresi diri jiwa muda, yang haus akan idealisme, dan menuntut untuk diakui eksistendinya oleh orang-orang disekitarnya. memang tidak semua kasusberakhir dengan penyesalan di akhir. Namun bila kita cermati, ada satu aspek yang sangat penting dan terlupakan dalam kalimat-kalimat tadi.Aspek/poin itu adalah hak dari orang tua kita
    Sebagai generasi muda yang mengaku memiliki KTP indonesia, kita tentu tidak asing dengan Pancasila kan ?, banyak dari kita sudah hafal dengan lima buah sila dari pancasila, bahkan diluar kepala. Tapi apakah kita pernah merenungkan buah pemikiran dan perjuangan dari para pendiri bangsa kita itu?. Saat kita bimbang akan sesuatu, Pancasilalah yang sebenanya acuan kita untuk bertindak, sehingga lahir akal budiyang cerdas, dan lembut.
    Di dalam Pancasila terkandung satu nilai yang penting untuk kita ketahui, yaitu adalah batasan hak kita sebagai generasi muda. sebelum menuntut hak kita melakukan kewajiban, tapi dalam menuntu hak juga bukan berarti sebebas-bebasnya, ada hak orang lain yang menjadi batasan hak kita. Hak remaja, katakanlah dibiayai studinya, mendapat kasih sayang ,mendapat perhatian, mendapat pembimbingan orang tua, hingga dewasa atau menikah (bahkan setelah menikah pun, masih mendapat bimbingan dari orang tua). Lalu akan muncul satu pertanyaan penting yang kita lupakan, "Apakah Hak Orang Tua Kita ?", karena itulah batasan kita, idealisme tapi idealisme yang terbatas, kebebasan tapi kebebasan yang terbatas, tidak yang sebebas-bebasnya. itulah kepribadian yang diwariskan oleh Pancasila untuk kita sebagai generasi muda Indonesia. satu nilai yang luas cakupannya :-D.
    Dengan selalu merenungkan "Apa hak orang tua kita", kita tidak akan terjerumus dalam pergaulan yang sangat bebas, atau sejenisnya.
    Masih banyak lasgi rahasia dari Pancasila yang menunggu kita, garuda-garuda mudanya untuk mengupasnya lebih dalam.
    Sekian ini note saya kali ini, semoga apa yang saya dapatkan dari pengalaman sehari-hari dan pelajaran dari setiap guru yang saya temui bermanfaat untuk kita semua.
    Salam untuk semua garuda-garuda muda Indonesia, yang berproses untuk jadi lebih luar biasa.


Jangan Sepelekan yang Kecil

Jangan sepelekan hal – hal yang kecil dalam hidup kita. Sering kita tidak sadar yang kecil itu ternyata sama berbahayanya dan sama merusaknya dengan sesuatu yang besar itu.. . kita ambil contoh note fb saya yang lalu. Contoh lain, lubang pada gigi juga dapat membuat tubuh jadi meriang, atau seperti kata iklan odol di tv ”makan panas, dingin, asam, pedas jadi ngilu..”. Beberapa hal kecil yang luput dari perhatian dan akan kita bahas disini adalah pernyatan – pernyataan yang seolah – olah positif tetapi sebenarnya menjerumuskan.

Saya sudah tahu”
    Pernyataan saya sudah tahu, sebenarnya membuat kita untuk berhenti belajar dan membuka diri. Pada saat kita berhenti belajar dan membuka diri, maka kita sudah berhenti berkembang.. , padahal orang lain terus belajar dengan pengetahuan yang baru, sedangkan orang dengan “saya sudah tahu” terus diam di tempat.
Kita sebaiknya perlu tahu, bahwa manusia itu merupakan makhluk yang dinamis, perlu belajar untuk terus maju dan memajukan J, bukan sebaliknya, statis.. karena manusia itu sama sekali bukan benda mati.

“Saya orangnya memang begini”
    “saya orangnya memang begini, terima saya apa adanya, dinasehatin juga saya nggak akan mungkin bisa berubah..”
    Dengan mengucap kalimat yang mengandung frasa di atas, sebenarnya bukan citra positif dari perkataan orang lain yang kita tangkap, tetapi sisi negatifnya.. .Kita memenangkan diri sendiri. Perkataan orang lain, tanpa pandang bulu termasuk saran yang membangun  dianggap sebaliknya, sebagai kritik pedas. Lebih parah lagi sebagai hujatan dan memicu sindrom anti – sosial.

“Hiduplah seperti air mengalir ke laut”
    Sering orang yang kita anggap bijak, dan mampu memberikan nasehat berkata demikian. “jalanilah hidup seperti air mengalir, muaranya akan ke laut juga”. Memang kalimat diatas benar adanya, sebagian besar air bermuara langsung ke laut. Tapi akankah langsung ke laut ? ada yang harus melewati comberan, tempat menjijikan lain baru ke laut. Sebagian lain juga tidak ke laut, ada yang ke septic tank, dan tempat menjijikan lain.
Jadi rencanakan hidup kita. Siapa yang mengetahui masa depan, tenyata ada “air” yang tidak menuju ke laut, tapi ke septic tank.

Disadur dari berbagai sumber
05/01/2012, 01:05 p.m