Beberapa hari hari yang lalu aku menjejakkan kaki lagi di kota tempat aku belajar sekarang, setelah pulang dari perjalanan mencari tempat belajar baru. Aku merasa semuanya tidak akan pernah sama seperti sebelum kepergianku mencari tempat belajar baru ini. Apakah itu menjalani kuliah seperti dulu, target - target kuliah, atau gaya hidup kupu - kupu.
Apa yang kita lakukan pasti akan menimbulkan akibat bukan ?, seorang yang bermain air akan basah, seorang yang kehausan bila diberi minum akan hilang dahaganya. Itulah akibat yang selalu menyertai perbuatan seperti bila kita melihat bentuk utuh bulan pada kolam yang jernih. Seringnya, arah akibat itu tidak dapat kita duga sebelumnya, atau tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Itulah apa yang sedang aku hadapi. Sekuat apapun aku berusaha untuk masuk ke tempat belajar yang aku tuju kemarin dengan usaha terbaik dan semangat nekat ala bonek, gagal atau lolosnya tidak dapat aku pastikan. Kesalnya menyadari hal ini, tapi bila dipikir - pikir memang begitulah yang seharusnya harus terjadi demi kebaikan, dan kesekian kalinya hati dikalahkan oleh logika.
Everything you do comes with risk, bigger thing you seek, bigger risk you face. Kira - kira seperti itulah salah satu makna hidup yang harus kita pegang. Semakin besar hal yang kita cari, semakin besar pula resiko yang harus kita hadapi. Tidak ada perjuangan yang tidak menuntut adanya resiko. Pergi 33.000 km untuk seleksi bukan jarak yang hanya sekali naik sepeda lalu sampai, tidak hanya mengayuh sebentar lalu istirahat, tapi jarak yang harus ditempuh dengan kemampuan fisik, mental, dan kesediaan berkorban waktu yang tidak sebentar. Lemas rasanya ketika kesekian kali harus gagal lagi, tapi kembali lagi hati harus kalah oleh logika, dan sadar bahwa ini hanya hal yang harus aku lakukan,seperti sacrifice untuk mendapat hal yang lebih besar.
Aku jelas tidak mau gagal lagi, tapi bila terjadi aku bisa apa ?, aku hanya bisa melakukan satu hal, Merayakan Kegagalan. Bersyukur dengan pengalaman yang diberikan kepadaku, bersyukur dengan perubahan yang diberikan kepadaku dalam hal apa saja. Aku akan mencoba rileks, bila aku memang harus belajar lagi ditempat ini tiap malam, ditemani radio hp kecilku, mengetik tugas di meja dekat jendela kamarku, atau memasak dengan penanak nasi sederhanaku lagi saat pulang kuliah dan mencuci tiga kali seminggu. Jadi pengangguran sementara lagi, sampai akhirnya menghanyutkan diri dalam bursa kerja.
"But, a thing i know for sure that is my today and tomorrow never be the same as my past, when i wasn't knowing that the real sacrifice is beautiful"
Semarang 22:54, 28/06/2012
di sudut kamar rusun dekat jendela
Apa yang kita lakukan pasti akan menimbulkan akibat bukan ?, seorang yang bermain air akan basah, seorang yang kehausan bila diberi minum akan hilang dahaganya. Itulah akibat yang selalu menyertai perbuatan seperti bila kita melihat bentuk utuh bulan pada kolam yang jernih. Seringnya, arah akibat itu tidak dapat kita duga sebelumnya, atau tidak sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Itulah apa yang sedang aku hadapi. Sekuat apapun aku berusaha untuk masuk ke tempat belajar yang aku tuju kemarin dengan usaha terbaik dan semangat nekat ala bonek, gagal atau lolosnya tidak dapat aku pastikan. Kesalnya menyadari hal ini, tapi bila dipikir - pikir memang begitulah yang seharusnya harus terjadi demi kebaikan, dan kesekian kalinya hati dikalahkan oleh logika.
Everything you do comes with risk, bigger thing you seek, bigger risk you face. Kira - kira seperti itulah salah satu makna hidup yang harus kita pegang. Semakin besar hal yang kita cari, semakin besar pula resiko yang harus kita hadapi. Tidak ada perjuangan yang tidak menuntut adanya resiko. Pergi 33.000 km untuk seleksi bukan jarak yang hanya sekali naik sepeda lalu sampai, tidak hanya mengayuh sebentar lalu istirahat, tapi jarak yang harus ditempuh dengan kemampuan fisik, mental, dan kesediaan berkorban waktu yang tidak sebentar. Lemas rasanya ketika kesekian kali harus gagal lagi, tapi kembali lagi hati harus kalah oleh logika, dan sadar bahwa ini hanya hal yang harus aku lakukan,seperti sacrifice untuk mendapat hal yang lebih besar.
Aku jelas tidak mau gagal lagi, tapi bila terjadi aku bisa apa ?, aku hanya bisa melakukan satu hal, Merayakan Kegagalan. Bersyukur dengan pengalaman yang diberikan kepadaku, bersyukur dengan perubahan yang diberikan kepadaku dalam hal apa saja. Aku akan mencoba rileks, bila aku memang harus belajar lagi ditempat ini tiap malam, ditemani radio hp kecilku, mengetik tugas di meja dekat jendela kamarku, atau memasak dengan penanak nasi sederhanaku lagi saat pulang kuliah dan mencuci tiga kali seminggu. Jadi pengangguran sementara lagi, sampai akhirnya menghanyutkan diri dalam bursa kerja.
"But, a thing i know for sure that is my today and tomorrow never be the same as my past, when i wasn't knowing that the real sacrifice is beautiful"
Semarang 22:54, 28/06/2012
di sudut kamar rusun dekat jendela

Merayakan Kegagalan. Bersyukur dengan pengalaman yang diberikan kepadaku, bersyukur dengan perubahan yang diberikan kepadaku dalam hal apa saja.
BalasHapusBagus.bagus.bagus :D
Hayo semangaatt..